INDIK . ID KOTA BEKASI - Menteri Ketenagakerjaan Prof. Ir. Yassierli, S.T., M.T., Ph.D., menargetkan tingkat penyerapan lulusan pelatihan vokasi ke dunia industri meningkat hingga 70 persen. Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat kompetensi tenaga kerja sekaligus menekan angka pengangguran di Indonesia.
Target tersebut disampaikan Yassierli saat memberikan pembekalan dan orientasi kepada peserta Pelatihan Vokasi Nasional 2026 di Kota Bekasi, Jumat (16/10/2026).
Menurut Yassierli, program Pelatihan Vokasi Nasional merupakan salah satu program strategis pemerintah untuk menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan pasar kerja. Program ini terutama menyasar lulusan SMA dan SMK, tetapi tetap terbuka bagi masyarakat dari latar belakang pendidikan lainnya.
“Harapan kita, mereka memiliki kompetensi dan keterampilan spesifik yang menjadi bekal untuk bekerja atau berwirausaha,” ujar Yassierli.
Ia menjelaskan Orientasi peserta pelatihan vokasi dilaksanakan secara berkelanjutan melalui balai-balai pelatihan milik Kementerian Ketenagakerjaan. Pelaksanaan tahun ini telah memasuki gelombang kelima, sementara pendaftaran untuk gelombang keenam mulai dibuka.
Dalam kegiatan pembekalan tersebut, sekitar 500–600 peserta hadir secara langsung. Sementara itu, peserta lainnya mengikuti kegiatan secara daring dari berbagai balai pelatihan yang tersebar dari Aceh hingga Papua.
Yassierli mengatakan, pembekalan dan orientasi menjadi agenda rutin untuk memberikan motivasi sekaligus gambaran kepada peserta mengenai manfaat pelatihan vokasi. Sejumlah alumni juga membagikan pengalaman setelah mengikuti pelatihan hingga berhasil memperoleh pekerjaan.
Tingkatkan Penyerapan Lulusan ke Industri
Kementerian Ketenagakerjaan terus mendorong peningkatan tingkat penyerapan peserta pelatihan ke dunia kerja. Saat ini, tingkat penyerapan lulusan pelatihan yang langsung bekerja diperkirakan baru mencapai sekitar 40 persen.
Pemerintah menargetkan angka tersebut meningkat menjadi 70 persen melalui sejumlah strategi, mulai dari penguatan kerja sama dengan industri hingga penyesuaian kurikulum pelatihan.
“Kita terus meningkatkan tingkat penyerapan hasil pelatihan ke industri. Kalau sekarang mungkin baru sekitar 40 persen yang dilatih langsung bisa bekerja, target kita meningkat sampai 70 persen,” kata Yassierli.
Untuk mencapai target tersebut, Kementerian Ketenagakerjaan akan memperkuat kolaborasi dan koordinasi dengan perusahaan, kawasan industri, serta kawasan ekonomi khusus. Pendekatan langsung kepada dunia usaha dilakukan agar kebutuhan tenaga kerja dapat teridentifikasi sejak awal.
Selain itu, kurikulum pelatihan akan terus diperbarui agar sesuai dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri. Pemerintah juga berupaya memperluas penyebaran informasi mengenai program pelatihan sehingga semakin banyak masyarakat memperoleh kesempatan untuk mengikuti seleksi.
Yassierli menegaskan, pelatihan vokasi diharapkan tidak hanya menghasilkan peserta yang memiliki sertifikat, tetapi juga tenaga kerja dengan keterampilan yang relevan dan dibutuhkan perusahaan.
Perluas Jangkauan Balai Pelatihan
Dalam kesempatan tersebut, Yassierli menyampaikan bahwa saat ini terdapat 42 balai pelatihan yang menjadi bagian dari jaringan pelatihan vokasi pemerintah, dengan jangkauan dari Aceh hingga Jayapura.
Pemerintah berencana menambah sedikitnya 14 balai pada tahun depan sehingga jumlahnya mencapai 56 balai. Penambahan tersebut diarahkan untuk memperluas akses pelatihan dan mendukung pemerataan peningkatan kompetensi tenaga kerja di seluruh Indonesia.
“Target kita minimal di setiap provinsi ada satu balai. Balai ini nantinya juga diharapkan dapat membina balai-balai pelatihan milik pemerintah provinsi,” ujarnya.
Menurut dia, keberadaan balai pelatihan menjadi faktor penting untuk mendekatkan layanan peningkatan keterampilan kepada masyarakat. Dengan akses yang semakin luas, masyarakat di berbagai daerah diharapkan memiliki peluang yang lebih besar untuk meningkatkan kompetensi dan memasuki dunia kerja.
Siapkan Pusat Pelatihan Khusus Penyandang Disabilitas
Selain memperluas jaringan balai, Kementerian Ketenagakerjaan juga memberikan perhatian terhadap peningkatan keterampilan penyandang disabilitas.
Yassierli menyebutkan, sepanjang 2026, pemerintah telah melatih sekitar 2.013 penyandang disabilitas. Jenis pelatihan yang diberikan antara lain keterampilan menjahit dan barista, serta bidang lain yang dapat mendukung kemandirian ekonomi peserta.
Pemerintah menargetkan angka tersebut meningkat menjadi 70 persen melalui sejumlah strategi, mulai dari penguatan kerja sama dengan industri hingga penyesuaian kurikulum pelatihan.
“Kita terus meningkatkan tingkat penyerapan hasil pelatihan ke industri. Kalau sekarang mungkin baru sekitar 40 persen yang dilatih langsung bisa bekerja, target kita meningkat sampai 70 persen,” kata Yassierli.
Untuk mencapai target tersebut, Kementerian Ketenagakerjaan akan memperkuat kolaborasi dan koordinasi dengan perusahaan, kawasan industri, serta kawasan ekonomi khusus.
( Heri M red )



