INDIK . ID DEPOK - Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Haikal Hassan atau yang akrab disapa Babe Haikal menegaskan komitmen Indonesia untuk memperkuat ekosistem halal sekaligus mendorong negara ini menjadi pusat halal dunia.
Pernyataan tersebut disampaikan Haikal Hassan dalam acara The 5th Summit of Halal 20 (H20) Indonesia yang mengusung tema “Bridging Bridges, Connecting Nations and Stronger Partnerships” di Grand Ballroom, Jalan Alternatif Cibubur Nomor 230, Depok, Jumat (18/9/2026).
Menurut Haikal, momentum saat ini menjadi waktu yang tepat untuk memperkuat penerapan jaminan produk halal di Indonesia. Ia menyinggung perjalanan regulasi jaminan produk halal yang telah dimulai sejak era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hingga diperbarui pada masa Presiden Joko Widodo.
“Dulu Pak Susilo Bambang Yudhoyono yang membuat Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014. Undang-undang itu akan diterapkan, tetapi dengan aturan pelaksanaannya ternyata belum terjadi. Sampai diperbarui melalui PP Nomor 42 Tahun 2019 oleh Bapak Joko Widodo, belum juga terjadi,” ujar Haikal.
Ia menilai saat ini merupakan momentum yang tepat untuk memperkuat sistem halal karena konsep halal dinilai tidak hanya berkaitan dengan aspek keagamaan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari penguatan ekonomi global.
“Sekaranglah waktunya paling tepat karena kita membawakan halal penuh kedamaian, ketenteraman, tiada ancaman. Bahkan, halal untuk menumbuhkan ekonomi dunia,” katanya.
Logo Halal dan Non-Halal
Haikal juga menyampaikan bahwa pemerintah tengah mempersiapkan aspek hukum terkait penandaan produk halal dan non-halal. Namun, ia menegaskan bahwa kebijakan tersebut belum ditetapkan secara resmi.
“Akan dipersiapkan bagaimana status hukumnya. Akan ada logonya, halal atau non-halal, nanti. Namun, tentu dengan melibatkan semua. Ada Majelis Ulama, ada Kementerian Agama, ada semua para pengusaha, dan seterusnya,” tuturnya.
Ia meminta masyarakat dan pelaku usaha tidak mendahului kebijakan yang masih dalam tahap pembahasan.
“Kita belum tetapkan yang baru. Belum tetapkan yang baru. Tolong jangan ada yang melenceng,” tegas Haikal.
Produksi Sertifikat Halal Capai 14.000–15.000 per Hari
Dalam kesempatan tersebut, Haikal mengungkapkan kapasitas penerbitan sertifikat halal BPJPH terus mengalami peningkatan.
“Kami berjanji satu hari bisa memproduksi 10.000 sertifikat halal. Itu sudah teruji. Rata-rata sekarang sudah mendekati 14.000 sampai 15.000 sertifikat halal per hari,” ungkapnya.
Meski demikian, ia mengatakan proses sertifikasi halal secara nasional masih membutuhkan waktu panjang. Haikal menyebut target cakupan sertifikasi bagi pelaku usaha hingga akhir 2029 masih berada pada kisaran 25–30 persen.
“Memang jalannya begitu karena waktunya panjang. Mudah-mudahan di akhir 2029 target saya baru 25 sampai 30 persen para pengusaha di Indonesia,” katanya.
Indonesia Disiapkan Menjadi Pusat Halal Dunia
Haikal juga memaparkan agenda internasional yang tengah dipersiapkan Indonesia untuk memperkuat posisi sebagai salah satu pusat industri halal dunia.
Menurut dia, Malaysia menjadi salah satu mitra strategis terdekat Indonesia. Kedua negara direncanakan membentuk Indonesia-Malaysia Halal Council pada akhir 2026.
“Pusat halal berkedudukan internasional, lalu kemudian akan menjadikan Indonesia menjadi pusat halal dunia. Karena itu, mitra kita yang paling dekat adalah Malaysia. Akhir tahun ini kita bentuk Indonesia-Malaysia Halal Council,” ujarnya.
Langkah tersebut, lanjut Haikal, akan dilanjutkan dengan pembentukan ASEAN Halal Council yang ditargetkan berlangsung pada September 2027.
“Nah, ini akan menjadi rujukan bagi dunia. Karena sebelum 2029, insyaallah pada 2028 terwujudlah World Halal Council,” katanya.
Ia berharap halal ke depan tidak hanya menjadi standar bagi produk makanan dan minuman, tetapi juga berkembang pada sektor obat-obatan, kosmetik, pakaian, serta berbagai barang gunaan lainnya.
“Halal sudah menjadi tren untuk semua makanan, minuman, obat, kosmetik dunia. Halal bukan hanya bicara soal proses pengolahan. Halal itu untuk semua, halal itu untuk kesehatan, halal itu untuk pertumbuhan, halal itu untuk growth economy,” jelasnya.
Halal Tak Lagi Dipandang Sebatas Produk Makanan
Haikal menekankan bahwa konsep halal kini telah berkembang melampaui pemahaman mengenai larangan terhadap bahan tertentu.
“Halal bukan lagi milik umat Islam semata. Halal menjadi milik semua orang karena halal bukan hanya bicara no pork, no lard, no alcohol,” katanya.
Ia menjelaskan, halal juga berkaitan dengan aspek kebersihan, higienitas, transparansi, ketertelusuran, dan kepercayaan terhadap suatu produk.
“Halal itu higiene, halal itu clean, halal itu kebersihannya terjaga, transparansinya terjaga, traceability-nya terjaga, dan trustability-nya, kepercayaannya, terjaga,” ujar Haikal.
Ia menyebut konsep halal juga mulai mendapatkan perhatian di berbagai negara. Menurut Haikal, halal di Eropa mulai dipandang sebagai bagian dari produk premium, sedangkan di Amerika dikaitkan dengan aspek kesehatan dan di Korea Selatan dengan konsep kebersihan.
“Halal telah mendunia. Halal telah menjadi konsumsi yang harus diperhatikan,” katanya.
Gratis untuk UMKM
BPJPH, kata Haikal, juga akan memperluas sertifikasi halal bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Ia menyebut kebijakan sertifikasi halal gratis bagi UMKM sebagai bentuk dukungan pemerintah.
“Halal juga menjadi langkah terakhir dalam protection. Dengan halal, kita juga bisa melakukan protect, di mana para UMKM itu akan kita berikan kemudahan-kemudahan. Ini hadiah dari Presiden Prabowo Subianto yang menggratiskan halal untuk para UMKM sehingga dengan mudah dapat mendapatkan sertifikasi halal,” tuturnya.
Haikal juga menyatakan BPJPH menargetkan proses sertifikasi dapat diselesaikan dalam waktu 1 x 24 jam apabila seluruh persyaratan dan pendampingan telah terpenuhi.
“Kami berjanji dengan persaksian yang baik, yaitu dengan para pendamping, akan mampu melakukan sertifikasi halal 1 x 24 jam selesai, keluar sertifikat halal, dengan pendamping yang baik dan terlatih tentunya,” katanya.
Saat ini, menurut Haikal, BPJPH telah memiliki sekitar 124.000 pendamping yang tersebar di seluruh Indonesia untuk mendukung pelaksanaan kewajiban sertifikasi halal.
“Sudah 124.000 orang pendamping kami di seluruh Indonesia yang bersiap untuk menyambut WHO (Wajib Halal Oktober),” ujarnya.
48 Negara Hadir dalam H20
Haikal menilai penyelenggaraan H20 juga menjadi momentum penting untuk memperkenalkan perkembangan ekosistem halal Indonesia kepada dunia internasional.
Ia menyebut sebanyak 48 negara hadir dalam kegiatan tersebut.
“Mudah-mudahan dengan acara ini, 48 negara hadir dan mereka sudah melihat, ‘Oh, begitulah halal di Indonesia’. Jadi, silakan masuk ke Indonesia dengan sertifikat halal yang terjaga, yang terjamin,” kata Haikal.
Di akhir pernyataannya, Haikal memberikan apresiasi kepada awak media yang turut memberitakan perkembangan industri halal di Indonesia.
“Terutama Anda semua, awak media yang meliput. Karena Anda semua, halal ini menjadi berkembang. Sehingga tidak akan pernah kami lupakan,” katanya.
Ia berharap pemberitaan mengenai perkembangan industri halal dapat terus memberikan informasi kepada masyarakat dan memperkuat pemahaman publik mengenai pentingnya jaminan produk halal.
“Halal hari ini sudah berkembang sedemikian rupa. Halal bukan lagi milik umat Islam semata, tetapi menjadi milik semua orang,” pungkasnya.(HERISUSILO)


