• Jelajahi

    Copyright © indik.id
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Di AIIF 2026, Dirut Jasa Raharja Paparkan Masa Depan Perlindungan Publik Berbasis AI

    www.indik.id
    28/08/26, 13:18 WIB Last Updated 2026-08-28T06:18:35Z

    INDIK . ID BANDUNG – Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai mengubah cara Jasa Raharja dalam melindungi masyarakat. Teknologi ini tak hanya digunakan untuk mempercepat pelayanan kepada korban kecelakaan, tetapi juga untuk membaca pola risiko dan membantu mencegah kecelakaan lalu lintas sebelum terjadi. 


    Direktur Utama PT Jasa Raharja (Persero), Muhammad Awaluddin, memaparkan 

    arah transformasi tersebut dalam sesi panel “AI Mobility & Transportation Ecosystems” pada AI Indonesia Initiative Forum (AIIF) 2026 di Aula Timur Institut Teknologi Bandung, pada Kamis (27/08/2026). 


    Dalam forum yang mempertemukan regulator, akademisi, pelaku industri transportasi, dan praktisi teknologi itu, Awaluddin mengatakan bahwa pemanfaatan AI harus bermuara pada perlindungan publik yang lebih cepat, tepat, dan berorientasi pada pencegahan. 


    “Transformasi digital harus membawa perubahan nyata terhadap cara kita melindungi masyarakat. Dengan dukungan data dan AI, Jasa Raharja ingin bergerak 

    dari pendekatan yang bersifat responsif menuju perlindungan yang semakin prediktif, 

    preventif, dan preskriptif,” papar Awaluddin. 


    Menurut Awaluddin, Jasa Raharja memiliki ekosistem pelayanan yang terhubung dengan berbagai pemangku kepentingan. Antara lain Kepolisian, Kementerian Perhubungan, pemerintah daerah, rumah sakit, Samsat, serta institusi terkait lainnya. Kolaborasi dan integrasi data dalam ekosistem tersebut menjadi fondasi penting bagi pengembangan sistem perlindungan publik berbasis teknologi. 


    Salah satu implementasi yang telah dikembangkan adalah pemanfaatan teknologi 

    dalam JR-Care untuk mendukung percepatan pelayanan kepada korban kecelakaan. Melalui proses digital dan verifikasi dokumen, data korban serta informasi medis dapat diproses secara lebih cepat, konsisten, dan akurat. Dengan begitu, penerbitan surat jaminan bagi korban dapat dilakukan lebih efisien. 


    “Teknologi harus membuat korban semakin mudah memperoleh pelayanan. Prinsipnya tetap berpusat pada manusia. AI membantu proses pengambilan keputusan, tetapi empati, akuntabilitas, dan kepentingan korban harus tetap menjadi pusat dari setiap inovasi,” kata Awaluddin. 


    Selain memperkuat layanan JR-Care, Jasa Raharja tengah mengembangkan tiga fokus pemanfaatan AI. Pertama, AI-Based Accident Prediction and Prevention System untuk memetakan wilayah rawan, mengenali pola kecelakaan, dan memberikan rekomendasi intervensi keselamatan. 


    Kedua, AI Predictive Collection untuk mendukung pemetaan tingkat kepatuhan 

    pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor dan Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan atau PKB-SWDKLLJ. Ketiga, AI Medical Claim and Fraud Intelligence untuk mendukung validasi klaim medis, mendeteksi anomali, menentukan prioritas pemeriksaan, serta memperkuat tata kelola pelayanan secara objektif dan akuntabel. 


    Namun, Awaluddin mengingatkan bahwa peningkatan pemanfaatan AI harus diikuti 

    dengan tata kelola yang kuat. Perlindungan data pribadi, keamanan siber, transparansi penggunaan teknologi, mitigasi bias algoritma, serta pengawasan manusia merupakan elemen penting untuk menjaga kepercayaan publik. 


    “Kecepatan inovasi tidak boleh melampaui kesiapan tata kelolanya. AI harus dikembangkan secara aman, bertanggung jawab, dan dapat dipertanggungjawabkan 

    karena teknologi ini digunakan untuk mendukung pelayanan yang menyangkut 

    keselamatan dan perlindungan masyarakat,” tegasnya. 


    Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa persoalan keselamatan transportasi tidak 

    dapat diselesaikan oleh satu institusi maupun satu moda transportasi. Dibutuhkan integrasi dan kolaborasi antara pemerintah, regulator, operator transportasi, industri asuransi sosial, fasilitas kesehatan, akademisi, dan pengembang teknologi. 


    Kolaborasi tersebut diperlukan agar data yang berasal dari berbagai sektor dapat diolah menjadi pemahaman bersama mengenai pola mobilitas dan risiko keselamatan. Dengan demikian, kebijakan serta program pencegahan kecelakaan dapat disusun secara lebih akurat dan berbasis bukti. 


    “Masa depan perlindungan publik berbasis AI hanya dapat dibangun melalui kolaborasi antara pemerintah, akademisi, industri, dan para inovator,” ujar Awaluddin. 


    Melalui partisipasi dalam AI Indonesia Initiative Forum 2026, Jasa Raharja 

    berkomitmen untuk terus mendorong pemanfaatan teknologi yang memberikan

    dampak nyata bagi masyarakat. Transformasi tersebut menjadi bagian dari upaya

    perusahaan untuk menghadirkan pelayanan yang semakin cepat, akurat, mudah

    diakses, serta mendukung terciptanya perjalanan yang lebih aman bagi seluruh

    pengguna jalan. ( Heri M red ) 

    Terkini