• Jelajahi

    Copyright © indik.id
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Uang yang Terbakar di Bantar Gebang

    www.indik.id
    20/05/26, 20:18 WIB Last Updated 2026-05-20T13:19:12Z

    INDIK . ID kota Bekasi - Setiap hari satelit NASA merekam Bantar Gebang sebagai titik merah di peta emisi metana Asia Tenggara. Itu bukan sekadar polusi. Itu tanda ada uang yang sedang terbakar di atas timbunan sampah.


    Metana yang lepas ke udara adalah bahan bakar. 1 m3 metana setara 1 liter bensin. Kalau dibiarkan kabur ke atmosfer, artinya DKI sedang membuang potensi listrik yang bisa dipakai warga, sekaligus menambah beban iklim global. Di titik inilah DKI berada di persimpangan.


    *Jalur pertama: biarkan uang terus terbakar.*  

    Kalau zona lama tidak ditutup cepat dan sumur gas tidak diperluas, maka 10-15 tahun ke depan Bantar Gebang masih akan “menyala” di satelit. Warga Bekasi dan Jakarta tetap hirup bau H2S, risiko lindi masih ada, dan DKI terus disalahkan sebagai simbol kegagalan. Padahal teknologi solusinya sudah ada.


    *Jalur kedua: ubah gas jadi energi dan uang.*  

    Langkah yang harus segera DKI lakukan:


     *Percepat penutupan zona lama dengan sistem penangkap gas 100%*  

    Targetkan semua timbunan lama tertutup geomembran dan dipasang pipa vertikal dalam 3 tahun. Jangan menunggu 5 tahun. Setiap bulan penundaan berarti ribuan m3 metana terbuang.


    *Perluas PLTSa dari 1.500 ton jadi 2.500 ton per hari*  

    Dengan kapasitas itu, Bantar Gebang bisa suplai listrik untuk 150 ribu rumah tangga. Uangnya bisa dipakai subsidi listrik warga miskin Jakarta dan Bekasi, atau dikembalikan untuk perbaikan lingkungan sekitar TPA.


    . *Bangun skema “carbon credit” dari pengurangan metana*  

    Metana yang berhasil ditangkap dan dibakar bisa dijual sebagai kredit karbon ke pasar internasional. Dana itu bisa dipakai buat program Jakstrada di hulu, seperti TPS 3R dan bank sampah. Ini model yang sudah dipakai Brasil dan Thailand.


    . *Lindungi pejabat yang berani ambil keputusan*  

    Kepala DLH DKI yang menandatangani kontrak perluasan PLTSa dan penutupan zona lama harus dapat backing hukum dari Pemprov dan pusat. Kalau mereka dihukum karena insiden di masa transisi, maka tidak ada lagi yang mau mengambil risiko membangun infrastruktur sampah.


    Persimpangan ini sederhana. Mau terus bakar uang dan reputasi, atau ubah timbunan sampah jadi pembangkit listrik dan pemasukan daerah. Bantar Gebang sudah buktikan bisa. Sekarang tinggal DKI berani menekan gas, bukan hanya menahan bau.


    Kalau langkah ini jalan, maka 3 tahun lagi satelit tidak akan lagi lihat Bantar Gebang sebagai hotspot merah. Yang terlihat adalah kota yang berani mengubah sampah jadi energi.


    Rusdi legowo 

    Wakil ketua umum bidang lingkungan hidup 

    Markas besar laskar merah putih 

    ( Heri M red ) 

    Terkini