INDIK.ID, BEKASI - Pemerintah terus mendorong pemerataan kesempatan kerja di tengah masih terbatasnya akses bagi lulusan sekolah menengah atas dan kejuruan (SMA/SMK). Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan serta perluasan program pelatihan vokasi yang lebih inklusif dan berorientasi pada kebutuhan industri.
Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, menyatakan bahwa lulusan SMA/SMK menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus dalam kebijakan ketenagakerjaan nasional.
Menurut dia, selama ini program pelatihan kerja tidak hanya menyasar lulusan SMA/SMK, tetapi juga lulusan perguruan tinggi. Namun, ke depan pemerintah berkomitmen untuk memastikan lulusan SMA/SMK memiliki peluang yang setara dalam memasuki dunia kerja.
“Kesempatan kerja merupakan hak setiap warga negara. Karena itu, kami ingin memastikan akses tersebut dapat dirasakan secara merata,” ujar Yassierli.
Di sisi lain, pelaksanaan program vokasi nasional menunjukkan capaian yang cukup positif. Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sekitar 50 persen peserta pelatihan telah terserap di dunia industri.
Capaian tersebut dinilai menjadi indikator bahwa program pelatihan vokasi mulai selaras dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. Meski demikian, pemerintah memandang perlu adanya perluasan jangkauan program agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas, khususnya bagi lulusan SMA/SMK yang belum memiliki akses terhadap pelatihan maupun pekerjaan.
Untuk mendukung hal tersebut, pemerintah akan terus memperkuat kolaborasi dengan sektor industri guna memastikan lulusan pelatihan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.
Selain itu, evaluasi program akan dilakukan secara berkala agar pelatihan vokasi tetap relevan, adaptif, dan efektif dalam meningkatkan penyerapan tenaga kerja nasional. ( Heri M red )


