INDIK.ID, BEKASI - Perjalanan ini menjadi pengingat bahwa Idulfitri bukan sekadar perayaan, melainkan juga momentum untuk merenungi kehidupan dan kematian.
Saya memulai perjalanan dengan menaiki bus dari Cipayung, Pool Agramas, Jakarta Timur, pada 18 Maret 2026, pukul 19.30 WIB, menuju Terminal Tirtonadi, Surakarta (Solo). Perjalanan panjang tersebut berakhir pada pukul 09.27 WIB saat saya tiba di terminal tujuan.
Setibanya di Surakarta, saya dijemput menggunakan mobil dan melanjutkan perjalanan menuju Rumah Mahameru, Purbayan, Baki (Gentan), Kabupaten Sukoharjo. Setelah beristirahat sejenak, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju pemakaman almarhum Bapak Sukijo dan almarhumah Ibu Tukiyem (mertua). Dalam perjalanan, kami sempat singgah di Pasar Batur Retno untuk membeli kembang dan perlengkapan ziarah.
Kami tiba di Pemakaman Pager Sari, yang berada di wilayah Gendo, Sendang Sari. Di tempat tersebut, kami memanjatkan doa dan mengenang jasa serta kasih sayang kedua almarhum. Suasana hening dan khidmat mengiringi setiap doa yang terucap, mengingatkan kami akan kefanaan hidup.
Usai berziarah, kami bersilaturahmi dengan kakak pertama dari pihak istri serta kakak kelima. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan dengan singgah di Waduk Pidekso untuk bertemu dengan Mas Andry, Bu Intan, dan Mas Guntur. Meskipun Mas Andry berhalangan hadir karena suatu keperluan, beliau dengan tulus memberikan rezeki agar kami tetap dapat menikmati makan bersama.
Alhamdulillah, saya bersama istri, anak, ponakan, serta dua cucu tercinta, Aira dan Saila, dapat menikmati hidangan berupa nasi ayam, sate, dan tongseng, ditemani minuman segar seperti air jeruk dan teh manis di warung sate dan tongseng di Batu Retno. Kebersamaan tersebut menjadi momen hangat yang penuh syukur.
Pada tanggal 20 Maret, kami berlapan berbelanja untuk memenuhi kebutuhan Lebaran di Pasar Jongke, Surakarta. Kami membeli berbagai keperluan, seperti kulit ketupat, santan kelapa, buah-buahan, serta bumbu-bumbu untuk memasak opor ayam dan sayur godog kacang panjang.
Sejak pagi hari, kami sekeluarga melaksakan ibadah salat Id di Masjid Baitul Shomad, Purbayan setelah menjalani ibadah puasa Ramadan.
Usai salat, kami saling bermaaf-maafan dan silaturahmi wujud kebersamaan dan kebahagiaan dalam menyambut Hari Raya Idulfitri 1 Syawal 1447 H.
Pada Sabtu malam, 21 Maret 2026, kami menyempatkan diri berjalan-jalan di sepanjang Jalan Gatot Subroto- Ngarsopuro, Surakarta. Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, untuk merasakan sejuknya udara pegunungan di puncak.
Keesokan harinya, 22 Maret 2026, perjalanan pulang dimulai. Anak bungsu saya berangkat lebih dahulu menggunakan kereta Eksekutif tambahan dari Stasiun Solo Balapan menuju Stasiun Bekasi. Sementara itu, saya bersama istri dan anak sulung berangkat dari Stasiun Purwosari menuju Stasiun Kutoarjo, lalu melanjutkan perjalanan dengan Kereta Gajayana (KA 35), gerbong eksekutif 8, dengan nomor kursi 2A, 3A, dan 3B.
Kami akhirnya berkumpul kembali di luar Stasiun Bekasi. Anak bungsu tiba lebih dahulu pada pukul 23.24 WIB dan menunggu di sebuah warung kopi, sementara saya tiba pada pukul 02.34 WIB. Pertemuan sederhana itu terasa begitu hangat setelah perjalanan panjang.
Selanjutnya, kami pulang menggunakan kendaraan daring. Alhamdulillah, kami tiba di rumah sekitar pukul 04.00 WIB di wilayah RW 012, Jatiluhur, Jatiasih, Kota Bekasi.
Perjalanan ini bukan sekadar mudik, tetapi juga perjalanan batin. Ziarah ke makam orang tua mengingatkan saya bahwa kehidupan di dunia hanyalah sementara. Idulfitri menjadi momen yang tepat untuk kembali menyucikan hati, mempererat silaturahmi, dan mengingat bahwa pada akhirnya, kita semua akan kembali kepada-Nya.
Minal ‘aidin wal faizin, nyuwun pangapunten lahir lan batin. Ing dinten suci Riyadi Idul Fitri 1447 H (2026 M), kula nyuwun agenging pangapunten menawi wonten lepat, khilaf, saha kalepatan ingkang kulo tindak, kanthi sengaja utawi boten._
_Mugi rahmat, berkah, lan pangayoman saking Gusti Allah tansah maringi katentreman, kabagyan, lan kawilujengan dhumateng panjenengan sedaya. Sugeng Riyadi, mugi kita tansah pinaringan sehat, ayem tentrem, saha dipun tampi sedaya amal ibadahipun. Aamiin 🤲🤲_
_Heri Susilo lan keluarga._


