• Jelajahi

    Copyright © indik.id
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Kasus Gigitan Ular Meningkat, Aktivis Lingkungan Dorong Pemerintah Perkuat Edukasi Masyarakat

    www.indik.id
    1/24/2026, 17:46 WIB Last Updated 2026-01-24T10:47:57Z

               

    INDIK.ID, BEKASI -  Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kota Bekasi dalam beberapa waktu terakhir memicu meningkatnya kemunculan ular di permukiman warga. Kondisi tersebut dinilai sebagai fenomena yang wajar mengingat periode Januari hingga Maret merupakan musim menetasnya ular.


    Hal tersebut disampaikan oleh Firman Ugama, Humas Patriot Fauna sekaligus aktivis lingkungan dan anggota Natwasatwa bidang penanganan reptil, saat memberikan edukasi kepada masyarakat pada Sabtu (24/1). Ia mengimbau masyarakat agar tidak panik, namun tetap waspada serta memahami jenis ular yang muncul di lingkungan sekitar.


    “Januari hingga Maret memang merupakan musim menetasnya ular. Saat banjir terjadi, habitat mereka terganggu sehingga ular keluar mencari tempat yang lebih kering,” ujar Firman.


    Firman menjelaskan bahwa tidak semua ular berbahaya bagi manusia. Ia mencontohkan ular piton yang tidak berbisa, berbeda dengan ular kobra yang memiliki bisa mematikan dan perlu diwaspadai.


    “Piton tidak berbisa. Justru yang berbahaya adalah kobra karena memiliki bisa yang mematikan,” tegasnya.


    Ia juga menyoroti maraknya perburuan biawak yang dinilai dapat memperparah permasalahan. Menurutnya, biawak merupakan predator alami ular karena memangsa telur dan anakan ular.


    “Biawak memakan telur ular dan ular kecil. Jika biawak diburu, maka populasi ular bisa menjadi tidak terkendali,” jelasnya.


    Terkait penanganan ular yang masuk ke rumah warga, Firman mengingatkan agar masyarakat tidak bertindak sembarangan.


    “Jika situasi memungkinkan, ular bisa digiring menggunakan sapu dan ember, kemudian hubungi komunitas penyelamat satwa. Namun, apabila yang ditemukan adalah piton berukuran besar, sebaiknya langsung menghubungi petugas pemadam kebakaran,” ujarnya.


    Firman juga meluruskan mitos yang beredar di masyarakat mengenai penggunaan garam untuk mengusir ular.


    “Itu hanya mitos. Ular tidak bereaksi terhadap garam,” katanya menegaskan.


    Ia menambahkan, masyarakat sebaiknya tidak menangkap ular maupun biawak yang ditemukan saat banjir karena selain berisiko tinggi, tindakan tersebut dapat merusak keseimbangan ekosistem.


    “Ular yang berasal dari alam cenderung mengalami stres, mogok makan, dan justru berpotensi membahayakan penangkapnya,” ungkapnya.


    Selain aktif memberikan edukasi, Firman dikenal memiliki pengalaman panjang di bidang konservasi reptil. Pada 2011, ia tercatat sebagai orang pertama di Indonesia yang berhasil mengembangbiakkan African Rock Python di Kota Bekasi. Prestasi tersebut memperkuat kompetensinya dalam penanganan dan konservasi ular.


    Firman juga menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dalam meningkatkan edukasi kepada masyarakat.


    “Pemerintah, khususnya Dinas Lingkungan Hidup, harus turun langsung ke kelurahan dan kecamatan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat,” tegasnya.


    Berdasarkan data nasional, sepanjang 2025 hingga awal 2026 tercatat lebih dari 8.700 kasus gigitan ular di Indonesia dengan 25 korban meninggal dunia. Di Kabupaten Lebak, Banten, tercatat 62 kasus dengan 11 korban meninggal, sementara Kabupaten Sukabumi mencatat 44 kasus dalam dua tahun terakhir.


    “Data tersebut sangat memprihatinkan. Banyak korban meninggal akibat kurangnya edukasi di tingkat masyarakat bawah. Selain itu, Indonesia saat ini hanya memiliki satu jenis serum antibisa ular, yakni polivalen, yang ketersediaannya pun terbatas dan umumnya hanya tersedia di rumah sakit besar,” jelasnya.


    Sementara itu, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) telah menyalurkan antibisa ular ke puskesmas rujukan serta menggencarkan edukasi mengenai penanganan pertama gigitan ular. Meski demikian, para pakar menilai upaya tersebut masih perlu diperkuat mengingat gigitan ular masih dikategorikan sebagai penyakit tropis terabaikan.


    “Untuk kebutuhan edukasi dan konsultasi, masyarakat dapat menghubungi saya melalui akun Instagram @firmanugamaa. Jangan hanya komunitas yang bergerak, pemerintah juga harus hadir dan serius,” pungkas Firman.

    ( HS ) 

    Terkini