• Jelajahi

    Copyright © indik.id
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Deepfake dan Scam Mewarnai Tahun Pertama Prabowo–Gibran: Refleksi Mafindo atas Tren Hoaks 2024–2025

    www.indik.id
    22/10/25, 22:14 WIB Last Updated 2025-10-24T15:27:49Z

    Indik .id Jakarta, 22 Oktober 2025 — Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo) menggelar Diskusi

    Media bertajuk “Potret Hoaks Setahun Pemerintahan Prabowo–Gibran” di Resto Lara

    Djonggrang, Menteng, Jakarta. Kegiatan ini merupakan bagian dari refleksi Mafindo terhadap

    lanskap hoaks di Indonesia selama satu tahun terakhir.

    Meningkatnya deepfake, konten hoaks yang diproduksi teknologi AI, baik untuk politik

    maupun tema lain, menjadi ancaman serius bagi ekosistem informasi digital. Bersamaan

    dengan itu, scam dan modus penipuan digital berkembang semakin kompleks dan

    menyebabkan kerugian finansial besar bagi masyarakat. Mafindo menilai, dibutuhkan strategi

    dan kolaborasi lintas sektor yang lebih intens dan efektif untuk menjaga kedaulatan informasi

    digital Indonesia.

    Melalui riset yang dilakukan sejak 21 Oktober 2024 hingga 19 Oktober 2025, Mafindo

    memetakan 1,593 hoaks berdasarkan tema, target, saluran, tipe narasi, serta penggunaan

    kecerdasan buatan (AI) dalam pembuatannya. Hasil riset menunjukkan adanya tren yang

    mengkhawatirkan dalam pola penyebaran disinformasi. Penggunaan teknologi deepfake

    meningkat tajam, terutama dalam konten bermuatan politik dan sosial, sehingga menantang

    kemampuan publik dan media dalam melakukan otentikasi informasi.

    Sejalan dengan itu, modus penipuan (scam) juga menunjukkan evolusi signifikan. Banyak

    kasus penipuan digital kini menumpang pada nama program-program pemerintah dan

    lembaga BUMN, seperti bantuan sosial, proyek infrastruktur, hingga lowongan kerja di

    Pertamina dan perusahaan pelat merah lainnya. Pola ini memanfaatkan kepercayaan publik

    terhadap institusi negara untuk menjerat korban melalui pesan berantai, situs palsu, dan iklan

    rekrutmen fiktif.

    Ketua Presidium Mafindo, Septiaji Eko Nugroho menyatakan, “Selama satu tahun

    pemerintahan Prabowo-Gibran, hoaks terus diproduksi dan berevolusi, menyusup di setiap

    gap regulasi dan gap literasi digital masyarakat. Evolusi dalam bentuk konten deepfake yang

    mudah diproduksi namun semakin sulit dideteksi sudah mengadu domba masyarakat

    Indonesia”

    Septiaji mencontohkan video deepfake Sri Mulyani dengan nada merendahkan guru mampu

    memantik kemarahan masyarakat hingga menormalisasi perusakan dan perundungan.

    Contoh lain, deepfake “Ibu Ana berkerudung pink” dibuat untuk mendelegitimasi kelompok

    aksi penyampaian aspirasi.

    Namun ancaman tidak berhenti di sana. ”Scam adalah jenis hoaks yang sering luput dari

    sorotan media, padahal korbannya sangat masif, dan bisa menimpa siapa saja. Kami

    menemukan scam kini semakin canggih karena sudah memanfaatkan AI dan big data hasil

    kebocoran data pribadi. Salah satu tren menonjol adalah scam yang mengatasnamakan

    BUMN seperti Pertamina, PLN, dan Telkom, dengan modus rekrutmen kerja palsu, investasi

    fiktif, atau ujaran kebencian. Ini ancaman serius bagi siapa pun,” tambah Septiaji.

    Presidium Mafindo Pengampu Komite Litbang, Loina Lalolo Krina Perangin-angin,

    menyoroti peran AI dalam produksi konten palsu. "Kami menemukan peningkatan signifikan

    konten hoaks berbasis AI, terutama deepfake yang sulit dideteksi publik awam. Narasi

    semacam ini mudah menggerus kepercayaan publik terhadap lembaga negara dan korporasi

    besar, termasuk BUMN.”

    Dari sisi akademik, Prof. Dr. Lely Arrianie, M.Si., Guru Besar LSPR Institute of Communication

    and Business menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. dalam memperkuat

    ketahanan masyarakat. “Literasi digital bukan sekadar kemampuan teknis, tapi juga

    kemampuan kritis dan sosial untuk memahami konteks di balik informasi yang beredar.

    Kolaborasi antara pemerintah, BUMN, media, dan komunitas literasi digital menjadi kunci

    memperkuat ketahanan masyarakat. Disamping itu pemerintahan Prabowo yang baru

    berjalan 1 tahun ini rawan diganggu dengan segala bentuk hoaks, baik dalam pelaksanaan

    dan fungsi kepemimpinan, kebijakan yang mungkin dianggap tidak sensitif rakyat. Masalah

    hukum, politik, ekonomi dan pendidikan, maupun pada aspek pertahanan keamanan. Karena

    itu para elit komunikasi hendaknya melek literasi dan adaptif terhadap perkembangan

    teknologi. 

    Diskusi ini dihadiri oleh jurnalis, akademisi, dan komunitas literasi digital, serta menjadi

    bagian dari upaya Mafindo untuk memperkuat ruang publik yang lebih sehat dan berbasis

    fakta di Indonesia. ( Heri M red ) 

    Terkini